Jumat, 14 Desember 2012

Pendidikan Keluarga: Pentingnya Dialog Keluarga untuk Sukses Bersama

Bissmillaah...
Tulisan ini tidak ditujukan untuk menyalahkan orang, tapi untuk memberikan rekomendasi solutif untuk kehidupan keluarga yang dipenuhi dengan berbagai aktifitas saling mendidik satu sama lainnya. Tulisan ini hanya sedikit obrolan santai.

عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
أَخْرَجَهُ أحمد 2/5(4495) و\"البُخَارِي\" 3/196(2554) و\"مسلم\" 7/6(4751~

All American Muslim by TLC ©Discovery Communications LLC


Satu saat saya berbincang dengan pegawai di Dinas KUMKM Jawa Barat bahwa pengrajin batik Trusmi, Cirebon saat ini semakin berkurang re-generasinya, saat ini tinggal banyaknya pengrajin berusia sepuh, bahkan ada yang sudah berusia 70 tahun. Kemanakah para generasi muda yang seharusnya bisa menjadi pengrajin batik Trusmi? Barangkali ada beberapa hal yang belum dibicarakan antara pengrajin sepuh dan anak-anaknya, pastinya kita hanya bisa berdo'a agar mereka semua mendapatkan kebaikan dari Allah Swt.

Di lain waktu saya sempat pula berbincang dengan seorang pengusaha swasta dalam bidang jasa pengiriman kargo di Jakarta, yang mana ia menjadi donatur sebuah perpustakaan masyarakat. Katanya, sulit saat ini mencari tenaga pustakawan di lingkungan keluarga untuk membesarkan kegiatan pendidikan melalui perpustakaan yang dirintisnya. Kemudian ia mengasuh seorang anak muda untuk masuk dalam lingkungan keluarganya, namun setelah didukung kuliahnya, ternyata anak muda ini memilih bekerja di bank swasta. Barangkali ada beberapa hal yang belum dibicarakan di antara mereka, pastinya kita hanya bisa berdo'a agar mereka semua mendapatkan kebaikan dari Allah Swt.

Kemudian saat bertemu dengan satu keluarga di Subang, saya menemukan data, bahwa ada seorang pemuda di keluarga tersebut yang pernah kuliah S1 kependidikan, lalu S2 ketahanan nasional, dan akhirnya kini bekerja sebagai guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)yang penghasilannya per-bulan di bawah UMK. Luar biasa! Potensi pemuda dengan pendidikan tinggi yang bagus, namun pemuda itu dan keluarganya masih merasa belum merasakan kepuasan yang selaras. Lagi-lagi, ingatlah kita hanya perlu mendo'akan kebaikan dan jalan terbaik bagi mereka semua.

Berjalan lagi ke daerah Soreang di sebuah komunitas pemerintahan daerah, saya bertemu seorang bapak yang sudah sepuh, ia pegawai negeri sipil, dan putrinya pun seorang pegawai negeri sipil. Ijazah anaknya adalah jurusan hukum, saat ini mengalami mutasi tugas asalnya dari dinas yang mengurusi masalah sosial, namun kini menjadi petugas di dinas yang mengurusi masalah pendidikan. Padahal harapan bapaknya, sebaiknya putrinya ini ditugaskan di biro hukum atau dinas yang urusannya berkaitan dengan hukum. Ya, memang ada unsur pengaruh Badan Kepegawaian dan Jabatan, dan ini tentu jadi PR yang harus diselesaikan pula oleh Pemerintah Pusat dan Daerah agar selayaknya menempatkan PNS sesuai dengan keahliannya dari sejak formasi sampai mutasi. Ya, kita do'akan pula solusi terbaik untuk semua pihak terkait agar mendapat jalan berkah dari Allah Swt.

Bicara masalah visi atau gambaran abstrak di masa kini dan masa datang, tentunya dalam keluarga itu harus senantiasa dibina suasana kekeluargaan yang sesungguhnya. Di antaranya harus memiliki ciri-ciri; 1) akrab; 2) saling mengasihi; 3) saling menyayangi; 4) saling mendukung; 5) saling terbuka untuk perbaikan. Keluarga tentu saling belajar, saling mengajar, saling melatih, dan tentunya saling mendidik. Terutama didikan orangtua kepada anaknya adalah mutlak menjadi amanah yang wajib dilaksanakan. Sehingga perlu dibangun sebuah budaya dialog yang saling menguatkan satu sama lain untuk kesuksesan kegiatan saling belajar dan saling mendidik di dalam keluarga. Tanpa dialog yang baik, pendidikan keluarga tidak akan baik. Dan tanpa dialog yang benar, maka pendidikan keluarga tidak akan benar.

Sehebat apa pun keinginan seorang anggota keluarga untuk mengajari anggota keluarga lainnya, apabila tidak diawali dan dibarengi oleh dialog yang baik, maka insya Allah kegiatan mengajar antar anggota keluarga tidak akan berjalan dengan baik.

Seideal apa pun rumus mendidik dari ayah untuk anaknya, apabila ayah bicara dengan marah-marah tidak jelas kenapa dan aturannya apa, maka anak bisa jadi benci pada ayahnya dan tidak mau belajar pada ayahnya.

Dialog yang baik dan benar sangat dibutuhkan untuk membangun sistem pendidikan keluarga yang baik dan benar. Dalam sebuah sistem pendidikan keluarga tentunya ada visi bersama, dan gabungan dari visi para individu anggota keluarga.

Pembuatan visi bersama antar anggota keluarga harus diwadahi oleh dialog yang baik; misalnya disampaikan kata-kata yang sopan dan santun di antara anggota keluarga. Selanjutnya pembuatan visi bersama itu pun harus dihantarkan dengan dialog yang benar; misalnya pembicaraan terarah dan jelas, artinya ada arah topik dan tema pembicaraan serta kejelasan batasan waktu dan nilai positifnya.

"Wah ada masalah, ayo kita rapat keluarga yuk..."
Kalimat semacam ini menandakan adanya kegiatan dialog sekeluarga, seolah formal seperti di dalam organisasi formal. Ya, meski keluarga adalah organisasi sosial yang in-formal, tapi perlu mengadakan pertemuan. Pertemuan inilah yang disebut kegiatan musyawarah dimana di dalamnya terdapat dialog antar anggota keluarga. Pertemuan semacam ini harus dimanfaatkan untuk menyamakan visi antar anggota keluarga, khususnya tentang: 1) pendidikan keluarga; 2) pendidikan formal yang akan diikuti; 3) regenerasi usaha keluarga; 4) kebutuhan keluarga dan kebutuhan usaha; 5) solusi peningkatan dan perbaikan kualitas hidup keluarga.

Apa pun masalah di antara anggota keluarga harus dibicarakan di dalam keluarga untuk penyelarasan gerakan bersama. Apabila ada egoisme individual, misalnya anak tidak mau nurut pada orangtuanya: seorang remaja x tidak mau sekolah di SMU, lalu ia kabur dengan pacarnya. Setelah diketahui faktor penyebab masalahnya adalah penyakit egoisme negatif pada diri remaja x yang dipengaruhi pacarnya, maka orangtua pun berusaha mencari anaknya dan berkoordinasi dengan orangtua pacar anaknya. Buat apa? Untuk mengadakan solusi bersama agar kedua remaja yang pacaran itu berhenti untuk egois dan mulai berani menerima arahan orangtua yang menyayangi mereka, karena orangtua mereka ingin anak-anaknya jauh dari zina dan bisa berperilaku sosial yang sehat.

Contoh lainnya, semisal masalah penghasilan orangtua yang sudah memasuki masa pensiun, lalu anaknya yang berusia 23 tahun masih nganggur belum berpenghasilan. Maka ini pun perlu dialog yang rutin, akrab dan penuh kasihsayang serta mencerdaskan. Supaya anak 23 tahun yang belum sadar itu bersemangat mencari kerja, maka orangtuanya mulai memperbaiki pola ibadahnya, mereka berdo'a rutin setiap hari untuk anaknya sambil terus mengadakan dialog dengan sang anak terkasih agar mau menyadari apa yang harus dilakukannya. Ketika anak sudah sadar, maka ia berpikir untuk menjadi anak yang berbakti pada kedua orangtuanya, ia ikuti pola ibadah orangtuanya, dan mulai mencari simpul-simpul informasi lowongan pekerjaan. Pekerjaan dan gaji yang dicari olehnya adalah penting bagi dirinya dan untuk membantu kedua orangtuanya pula.

Apa pun masalahnya di antara keluarga; apakah jalan karir, jalan pendidikan atau pola kegiatan dan pola hidup sehari-hari... Harus bisa diselaraskan dalam dialog hangat dan solutif di keluarga. Sebelum terjadi penyebaran berita tentang kekurangan dan aib keluarga kepada tetangga dan teman, maka sebaiknya setiap anggota keluarga mengadakan dialog kekeluargaan sebagaimana mestinya.

Bermusyawarahlah, bangun visi bersama dengan dialog keluarga. Samakan visi dengan dialog pula di antara keluarga. Keluarga adalah kenikmatan dan kebahagiaan di dunia, jangan sampai melewatkan kesempatan hidup dalam keluarga. Jika kita tak punya keluarga, hidup akan terasa sulit menjadi beban sendiri. Makanya hiduplah secara layak dengan keluarga.

Bangun dialog terus-menerus.Siapa pun orangnya di antara keluarga; apakah ayah, bunda, anak lelaki, anak perempuan, sepupu, kakek, nenek dan lainnya... Berusahalah dengan keras bangun dialog bersama.

Akrablah dengan keluarga. Berkasihsayanglah di antara keluarga. Saling sopan dan santunlah dalam berbicara untuk membuat visi, menyamakan visi, meng-komunikasikan keinginan agar sukses bareng sekeluarga.

Pokoknya jika anak mau jajan, bicara sama orangtua. Jika anak mau liburan, musyawarah keluarga. Jika ayah mau kuliah lagi, ngobrol sekeluarga. Apabila ibu akan membuat bisnis online, dialogkan dengan ayah dan anak-anak. Apabila anak mau membuat kelompok di sekolahnya atau di kampusnya, bicaralah dengan ayah dan bunda juga... Untuk apa semua dialog ini? Untuk menyamakan visi menuju kesuksesan keluarga. Sehingga semua anggota keluarga jadi hidup selayaknya keluarga. Bukan seperti orang asing.

Dialog keluarga itu wajib untuk kesuksesan pendidikan keluarga dan hidup keluarga di dunia ini.

Semoga beroleh berkah dan pahala terbaik di akhirat kelak.

Alhamdulillah. Astaghfirullaha lii wa lakum.

Semangat terus keluarga Indonesia! Hasilkan terus solusi bersama!

Sekian dan Terima Kasih,
Ridza Gandara

Senin, 06 Juni 2011

Pendidikan Hebat, Meluas Terus untuk Seluruh Manusia

Setelah tiga tahun ayat-ayat Al-Quran turun dari mulai ayat 1 surat ke-1 sampai surat ke-54 di Mekkah Al-Mukaromah. Kemudian turunlah ayat  perintah dari Allaah agar umat Islam menyampaikan risalah Islam secara terang-terangan. Allaah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” [Qs. Al-Hijr/15 : 94].

Pada periode proses pendidikan Islam yang berlangsung secara terang-terangan di Mekkah terjadi pergolakan antara kaum musyrikin dengan muslimin. Ketika itu kaum musyrikin tidak mau menerima seruan ajaran Islam yang mengajak kembali pada menyembah Allaah Yang Maha Esa. Sehingga kekerasan dari kaum Quraisy yang musyrik di Mekkah akhirnya meledak ingin selalu menumpas ajaran Islam yang disebarkan oleh Rasulullaah Muhammad Saw dan para pengikutnya.

Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullaah Saw semakin berkembang progresif seiring dengan bertambahnya ayat-ayat yang turun dan bertambahnya pengikut Nabi Saw yang bertakwa kepada Allaah. Seperti bertambahnya satu keluarga mulia, yakni Keluarga Yasir Radhiyallaahu ‘Anhum yang terdiri atas Yasir, Sumayah Ummu Ammar dan Ammar bin Yasir, dimana Yasir dan Sumayah adalah pasangan suami isteri yang syahid pertama kali di bumi Makkah.

Selama berada di masa pengajaran dan pendidikan Islam yang terbuka, terjadi fase Hijrah pertama ke Habasyah (Abyssinia; sekarang Ethiopia) agar para muslim berpindah ke wilayah kekuasaan rajanya, An-Najasyi (Negus) pada tahun 615 M dengan jumlah rombongan pertama yakni 10 orang dipimpin oleh Utsman bin Madz’un. Mereka keluar di malam hari menyusuri jalan berbukit dan mengarah ke pantai tempat berlabuhnya perahu-perahu. Kemudian mereka pun berlayar menuju Habasyah.

Selama adanya penyiksaan dan terror terhadap kaum muslimin di Mekkah, terjadilah sebuah penambahan kekuatan atas rahmat Allaah Azza wa Jalla. Akhirnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar ibn Khathab masuk Islam.
Proses penyampaian ajaran Islam kepada Hamzah berlangsung seperti terangnya ajakan masuk Islam dari Rasulullaah Saw kepada keluarga ayahnya atau Bani Muthalib. Hamzah mengalami rasa empati yang memuncak saat ia melihat penindasan yang dialami keponakannya, Muhammad Saw sampai Hamzah memutuskan untuk mengambil posisi tegas menjadi seorang muslim yang mendukung upaya penyebaran ajaran Islam.

Sedangkan proses tersampaikannya ajaran Islam kepada Umar bin Khathab adalah ketika ia sedang berjalan dengan cepat sambil membawa pedang terhunus untuk membunuh Nabi Muhammad Saw, dimana diinformasikan bahwa Nabi Saw tengah berkumpul dan mengadakan pengajaran Islam di sebuah rumah di wilayah Shafa. Tapi di tengah perjalanan ada Nu’aim bin Abdullah yang heran dengan berjalannya Umar sambil membawa pedang itu. Kemudian Nua’im menegur Umar dan memberi informasi bahwa Fatimah bin Khathab, adik kandung Umar sendiri sudah masuk Islam. Maka merahlah wajah Umar, kemarahannya lebih membara pada adiknya, sehingga ia pergi ke rumah adiknya dan terdengarlah kegiatan pembacaan sesuatu yang belum pernah ia dengar di rumah Fatimah dan adik iparnya, Sa’id bin Zaid. Lalu Umar bin Khathab meminta Fatimah membuka pintu rumahnya, sontak Fatimah dan Sa’id pun kaget, sementara keduanya sedang belajar tentang surat Thaha bersama Khabbab bin Al-Arat di dalam rumah itu. Akhirnya Khabbab bersembunyi, sementara Fatimah dan Sa’id menghadapi Umar sampai akhirnya Sa’id dipukul Umar, dan saat Fatimah membela Said, maka Umar pun menampar wajah Fatimah sampai  bibirnya berdarah. Umar tersadar melihat adiknya terluka akibat tamparannya, ia merasa bersalah dan kemudian menghentikan kekerasannya.
Saat situasi di rumah Fatimah berangsur dingin, Umar pun bertanya tentang apa yang dibaca dan terdengar olehnya, sehingga Fatimah pun memberikan lembaran bertuliskan surat Thaha kepada Umar. Dan Umar pun berusaha membacanya.
Singkat cerita, Khabbab bin Al-Arat keluar dari persembunyiannya dan menemui Umar seraya mengatakan bahwa Muhammad Saw telah memohon kepada Allah agar Islam diperkuat oleh Abul Hakam bin Hisyam atau Umar bi Khathab. Maka, Umar pun dengan seksama memahami perkataan Khabbab itu dan menanyakan dimana tempat Nabi Saw berada.

Umar kembali menghunus pedangnya dan pergi ke wilayah Shafa mencari Nabi Muhammad Saw. Umar pun mendobrak pintu tempat Nabi Saw berada dengan sekira 40 orang sahabat dan sahabiah yang tengah mempelajari Islam. Akhirnya para sahabat pun bersiap siaga menyongsong Umar yang bisa jadi akan berbuat onar. Namun Nabi Saw menenangkan para sahabatnya, termasuk pamannya, Hamzah yang hadir pula di sana. Akhirnya Nabi Saw berusaha mendahului Umar dan menyergapnya, lalu beliau Saw menanyakan perihal  tujuan kedatangan Umar. Dan Umar bin Khathab pun berkata, “Wahai Rasulullaah, aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allaah, Rasul-Nya, serta apa saja yang engkau bawa dari Allaah.”
Dengan demikian Rasulullaah Saw pun bersyukur kepada Allaah dan mengucap takbir sehingga terdengar oleh para sahabatnya di rumah pendidikan wilayah Shafa tersebut. Alhamdulillaah.

Sesungguhnya, masuknya ajaran kepada diri manusia terjadi karena kehendak Allaah Tabaraka wa Ta’aala yang menjadikan manusia dapat menerima konsep, fakta, teori, prinsip, atau aneka muatan pesan yang disampaikan melalui pengajaran.

Ajaran Islam berupa pesan syahadat; persaksian atas Allaah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Muhammad adalah utusan-Nya itu diterima Hamzah dengan mudah. Kemudian ajaran Islam berupa penyampaian kalamullaah, yaitu surat Thaha yang tertulis pada lembaran yang dibacanya tanpa kaidah tilawah Al-Quran, pada akhirnya dapat dipahami Umar sebagai suatu hal yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya. Terlebih lagi saat ia mendengarkan tilawah nan indah, dan ia pun sebelumnya dido’akan oleh Rasulullaah Saw agar masuk Islam dan memperkuat penyampaian ajaran Islam, maka proses sampainya ajaran Islam kepada Umar sangatlah kompleks. Sebuah skenario dari Allaah Al-Latif yang Maha Kuasa membuat setiap detail peristiwa.

-----





Terima Kasih, Selamat Mendidik Generasi
Ridza Gandara

Senin, 28 Februari 2011

Apakah Makna Pendidikan Islam?


Pendidikan Islam adalah pendidikan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran; pendidikan cara hidup berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnah; pendidikan yang menghasilkan pribadi muslim kafah sekaligus insan shalih. Inilah pola pendidikan universal yang sangat dirasakan khasiatnya oleh masyarakat dunia. 

Luar biasa hebatnya Islam dalam pendidikan karena berhubungan dengan pentingnya menjadi manusia yang selamat di dunia dan akhirat. Dan Islam memiliki seluruh jawaban atas permasalahan pendidikan yang diminta oleh manusia. Masyaa Allaah.

Sesungguhnya banyak sekali orangtua yang mengharapkan anak-anaknya menjadi seorang muslim yang baik. Bahkan tak jarang ada semacam harapan yang “saya ingin anak saya lebih baik dari saya”, dimana hal ini adalah sebuah pernyataan cinta kasih orangtua kepada anaknya, dan mereka sadar akan amanah mendidik anak.

Pendidikan Islam dari segi bahasa diambil dari kata ‘alama-yu’alimu, robbaa-yarubbuu, adaba-yu’adibu, darasa-yadrusu, faqiha-yafqahu Secara khusus uraian kata-kata tersebut adalah sebagai berikut.

1.    ‘Alama berarti berarti menjelaskan atau memberi pengetahuan yang dapat kita lihat pada kalimat ‘allamaul bayan (Qs. Ar-Rahman:4) atau dalam kalimat  khayrukum man ta’allamal quran (Al-hadis), kemudian dikenal kata ta’alim muta’alim yang berarti belajar-mengajar.
2.    Robbaa berarti mengasuh atau merawat dalam tumbuh kembang manusia yang dapat kita lihat pada kalimat robbaayani shoghiyra (Qs. Al-Isra:24) atau dalam kalimat man robbaa shogiyran (Al-hadis), kemudian dikenal istilah tarbiyyah yang berarti pendidikan.
3.    Adaba berarti memperlakukan dengan baik atau tata cara yang baik dalam perikehidupan manusia. Khusus tentang kata adab dalam Al-Quran tidak ditemukan adanya kata tersebut. Sedangkan dalam hadis yang ditemukan mengandung kata adab masih riskan untuk dituliskan di sini karena sanadnya. Kecuali kalimat ikramuu awlaadukum wa hasanu adaabahum (Al-hadis) Sehingga contoh kalimat mengandung adab adalah semisal, al-adab al mufrad yang merupakan sebuah judul kitab karya Imam Bukhari. Kemudian kita kenal kata ta’dib yang diartikan sebagai mengajari etika.
4.    Darasa berarti mempelajari atau meneliti sebagai fungsi manusia meraih kebutuhan hidupnya. Kata ini dapat ditemukan pada kalimat an laa yaquuluu ‘alallaahi illalhaqqo wa darosuu maa fiihi (Al-A’raf:169) atau dalam kalimat wa kaana jibrilu yalqoohu fii laylatin min romadhoona fa yudaarisuhul quraana (Al-hadis). Lalu kata yang dikenal adalah tadris yang berarti mendidik atau mengajar.
5.    Faqiha berarti memahami pelajaran atau menguasai ilmu, dimana seorang yang faqih dalam Islam adalah manusia terbaik yang menguasai ilmu, keterampilan dan sikap. Kata faqiha dapat ditemukan dalam kalimat liyatafaqqohuuna fiddini (Qs. At-Taubah:22) atau man yuridillaahu bihi khayran yufaqqihu fiddini (Al-hadis). Kemudian kata yang masyhur adalah tafaqquh fiddin yang memiliki makna menguasai pelajaran terbaik, yakni Islam.

-----

Terima Kasih, Selamat Mendidik Generasi

Ridza Gandara

Selasa, 06 Oktober 2009

Pendidikan Keluarga, Efektif Membangun Karakter Anak Cerdas, Mandiri dan Sejahtera

Keluarga sebagai unit terkecil sebuah bangsa adalah unit paling penting yang menopang peradaban sebuah negara bangsa. Baik itu negara bangsa yang diikat oleh kesatuan republik atau ideologi apa pun, tetaplah keluarga sebagai unit: organisasi terkecil yang punya peran penting dalam pembangunan negara tersebut.

Sistem Pendidikan Nasional (SPN) di Indonesia mengisyaratkan akomodasi yang legal, bahwa pendidikan informal, seperti yang sudah lama hidup di dalam keluarga rakyat Indonesia itu adalah sangat penting, sama halnya dengan jalur pendidikan formal di sekolah dan jalur pendidikan non-formal di tempat-tempat pelatihan.

Ironis...tatkala saya tanyakan kepada seorang nelayan, Pak Miswan namanya.
"Apakah anak-anak di sekitar rumah bapak di Pangandaran ini sudah lihai menangkap ikan?", maka, jawabnya "...mereka belum sempat, karena saat ini kebanyakan sibuk dengan bermain motor, mungkin ingin jadi tukang ojek saja, dapat banyak uang."

Selama hampir 3 bulan saya melaksanakan penelitian di Pangandaran, ternyata, minat anak-anak di pesisir pantai selatan Jawa Barat ini masih belum antusias dan belum merasakan kepentingan dari mencari ikan ke laut.

Apabila anak-anak kita dididik dengan orientasi mencari kedudukan, gelar, pangkat, status PNS dan memiliki banyak harta. Bahkan di dalam keluarganya pun dipaksa untuk mencari uang, uang, uang dan melulu uang. Maka, generasi mungil yang lucu itu akan diubah menjadi mesin pencari uang oleh keluarganya. Dan bukan tidak mungkin, bahwa di lingkungan tetangga dan lingkungan sekolah formalnya pun, anak-anak kita terpengaruh untuk mendapatkan "achievement" hanya berupa "uang"

Seperti yang terjadi di Pangandaran...
Para orangtua pun jadi mulai gelisah, bahwa tayangan televisi, tempat penyewaan playstation, tempat hiburan malam, orang dewasa yang mengojek dan para pendatang yang berdagang di Pangandaran akan mempengaruhi anak-anak mereka menjadi pekerja, pencari uang.

Padahal uang itu pada akhirnya akan berakhir menjadi beras yang dibeli untuk dimasak menjadi nasi. Lalu, untuk membeli sayuran dan ikan yang juga akan dimasak sebagai bahan konsumsi pangan mereka.

Selama pendidikan keluarga masih berjalan. Maka, efektifkanlah untuk mendidik anak agar mampu memiliki pengetahuan akan pentingnya kebutuhan pook sebagai manusia, lalu keterampilan mengelola sawah, berkebun, menjaring dan menjaring ikan, sampai berternak unggas, ikan, kambing,sapi dan domba.

Mengapa?
Karena setiap usaha yang menghasilkan kebutuhan pokok secara langsung akan menjadi pengaman utama ketahanan diri, termasuk ketahanan pangan.

Anak-anak kita, kelak saat tidak bisa beli beras, dan tidak punya teman nasi panganannya itu, maka, ia bisa mengambil beras di gubug penyimpanan beras dan mereka bisa menangkap ikan di laut atau di kolam.

Sedangkan dengan uang, harga bahan pangan bisa melambung tinggi tak terjangkau. Dan ketika anak-anak kita tidak punya uang. Lalu, mereka tidak bisa makan, karena mereka tidak tahu dan tidak mampu mencari bahan makanan yang sesungguhnya sangat pook dan bisa disiapkan sebelum masa lapar itu tiba, yakni dengan cara bertani atau berternak atau menangkap ikan di laut dan di kolam.

Mari kita renungkan kembali. Mobil dan motor saat kita beli sampai susah payah, ijazah dan gelar yang kita raih dengan kerja keras, itu semua tidak bisa dimakan! Apalagi disaat kita membutuhkan makanan pokok,maka sebagai rekomendasi:
  1. Bagi para profesional dan orang dewasa hari ini, segeralah berinvestasi di bidang pertanian dan peternakan, apalagi bagi yang masih punya kampung halaman. Kembangkanlah desa-desa kita semua untuk menopang kesejahteraan diri dan keluarga. Dan didiklah generasi termuda di kalangan kalian untuk meneruskan budaya kemandirian dan kecerdasan dalam menopang kesejahteraan keluarga dengan pemberdayaan potensi ternak, kebun, dan lahan pertanian.
  2. Bagi para guru dan dosen, didiklah anak-anak bangsa ini untuk tahu, terampil dan mampu bersikap mandiri mengelola kekayaan alam sekitarnya, terutama di pedesaan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
  3. Bagi para orangtua, silahkan segera merencanakan investasi agro untuk kebutuhan keluarga, milikilah lahan pertanian yang berdayaguna dan didiklah anak-anak menjadi insan yang cerdas seutuhnya: paham, terampil dan mampu bersikap mandiri mendapatkan kebutuhan pokoknya untuk kesejahteraan diri dan keluarga.

    Terima kasih, salam.
    Ridza Gandara

Minggu, 01 Februari 2009

Bagaimana Membuat Tujuan Pendidikan Islam untuk PAUD (Bagian 2)


Kedua, buatlah sebuah gambaran umum tentang profil lulusan PAUD yang terlintas di dalam diri kita, coba tuliskan. Setelah adanya gambaran umum, maka perlu gambaran khusus yang menjadi penjelasannya. Ambilah sifat, ciri, tanda atau karakter yang bisa digunakan sebagai unsur penjelas untuk profil lulusan PAUD yang hendak menampilkan anak didik sebagai pribadi muslim terbaik. Lakukanlah pendistribusian semua unsur penjelas tersebut ke dalam profil lulusan yang dibutuhkan oleh anak didik, orangtua dan ummat. Misalnya kita buat sebagai berikut:

Profil lulusan PAUD Al-Fatih yang terlintas dalam diri adalah sebagai berikut:
  1. Cerdas
  2. Berakhlak mulia
  3. Shalih
Contoh profil lulusan di atas merupakan curahan harapan, proyeksi kebutuhan dan gambaran penjelas yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti; “PAUD ini tujuan pendidikannya apa?”; “Bagaimanakah gambaran umum anak saya setelah lulus dari sini?”
Ketiga, buatlah penjelasan terhadap aspek-aspek yang telah dituliskan sebagai ciri umum profil lulusan PAUD agar yang umum nampak lebih khusus; yang abstrak menjadi konkrit; yang kompleks menjadi sederhana. Kegiatan ini sangatlah penting, dimana penguraian aspek umum pada profil lulusan akan sangat bermanfaat bagi perumusan kegiatan apa yang akan diselenggarakan untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut.

Dari contoh sebelumnya usah ada tiga aspek pada profil lulusan PAUD, yaitu: 1) cerdas; 2) berakhlak mulia; dan 3) shalih.

Cerdas berarti memiliki sifat: fathonah. Anak cerdas butuh ilmu, keterampilan dan pelajaran bersikap baik dan benar. Anak perlu bekal menjadi rabbaniyun; gemar belajar Al-Quran, Hadis, do’a dan pelajaran tambahan yang bermanfaat untuk bekal hidupnya serta untuk ia amalkan untuk keluarga dan ummat. Anak yang cerdas tentu pandai mengenal dan memilih mana yang haq dan mana yang batil. Anak perlu bekal sifat Al-iffah, artinya menjaga diri dari perbuatan batil; perlu ash-shobru juga supaya bisa bertahan menyukai perbuatan baik dan menangkal perbuatan buruk…dst.

Berakhlak mulia berarti memiliki sifat: akhlaqul karimah. Anak yang berakhlak mulia tentu harus mengikuti akhlak Rasulullaah Saw. Anak harus mengenal dan mengamalkan rukun iman dan rukun Islam agar akhlaknya mulia. Anak berakhlak mulia wajib berperilaku sesuai tuntunan Al-Quran seperti halnya Rasulullaah Saw yang ikhlas dalam keadaan susah dan senang, berbuat adil dalam keadaan suka dan marah, gemar shodaqoh dalam keadaan kaya atau miskin, mampu memberi maaf kepada saudaranya yang berbuat buruk padanya, bisa menyambung tali silaturahim kepada orang yang memutuskannya…dst. 

Shalih berarti memiliki sifat: shalih atau termasuk golongan orang-orang shaleh. Anak shalih perlu didik dengan melakukan latihan perbuatan baik diantaranya ya’muruna bil ma’ruf wa yanhauna ‘anil munkar. Anak shalih dapat menolong teman dalam kebaikan belajar; misalnya aktif dalam belajar berkelompok dan mencegah teman dari berbuat keburukan saat belajar; misalnya cegah mencontek. Anak shalih memiliki sifat gemar belajar Al-Quran dan sholat, beriman kepada Allaah, Rasulullah Saw dan hari akhir, serta mengamalkan rukun iman lainnya… dst. 

Keempat, membuat ketetapan tujuan pendidikan Islam pada PAUD secara tertulis dengan persetujuan formal semua pihak yang berwenang. Akhirnya buatlah produk berupa; berita acara rapat, surat keputusan, slide profil lulusan PAUD, teks profil lulusan di brosur dan buku.

Dengan adanya sebuah kejelasan tujuan pendidikan Islam bagi anak didik kita, seperti yang telah dirumuskan di atas, maka para pendidik muslim dapat menentukan langkah berikutnya guna menjawab urgensi pertanyaan; “pendekatan apa yang harus saya gunakan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam di PAUD ini?”

-----

Terima Kasih, Selamat Mendidik Generasi
Ridza Gandara

Bagaimana Membuat Tujuan Pendidikan Islam untuk PAUD (Bagian 1)



Alhamdulillaah washolatu wa salam 'ala rosulillaah, wa ba'du 
Hai apakabar semua? Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal 'afiat dan senantiasa menaati Allaah dan Rosul-Nya.
OK, langsung saja posting kali ini judulnya Bagaimana Membuat Tujuan Pendidikan Islam untuk PAUD. 

Pertama, awali dengan merencanakan tujuan pendidikan Islam pada PAUD dengan cara menginventarisir sebanyak mungkin ciri-ciri kepribadian muslim atau karakter muslim yang diridhoi Allaah.
Dalam mendidik anak dengan cara Islam untuk mencapai tujuan pendidikan Islami, maka perlu kita kenali ciri-ciri anak-didik yang pada akhirnya harus segera merasakan tujuan pendidikan masa kini dan harus bisa diproyeksikan kecenderungannya untuk merasakan tujuan pendidikan masa datang. Ada tujuan pendidikan yang tercepat untuk dicapai dan ada pula tujuan pendidikan yang sifatnya cukup diarahkan karena waktunya masih panjang ke masa depan anak didik, baik di kehidupan dunia dan akhiratnya.
Misalnya dalam forum curah pendapat yang formal dikumpulkan sifat-sifat mulia para nabi dan rasul, termasuk kepribadian Rasulullaah Saw yang menjadi tauladan terbaik, sebagaimana Allaah telah menyatakan dalam surah Al-Qolam ayat 4: “Artinya: Sungguh, kamu mempunyai akhlak yang agung” dan surah At-Taubah ayat 128: “Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.”
Kemudian kumpulkan sifat-sifat baik dari para sahabat Rasulullaah Saw, baik dari kalangan laki-laki (shahabat) dan perempuan (shahabiat), serta semua orang yang mengikuti pola sifat kebaikan mereka. Hal ini sangat sudah dijelaskan oleh Allaah dalam surah At-Taubah ayat 100: “Artinya: Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allaah rihda kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allaah. Allaah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”. Dan pada surah Fushilat ayat 30:  ” Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berkata,”Tuhan kami adalah Allaah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata),”Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu”.
Ada banyak ayat-ayat Al-Quran yang menggambarkan siapa nabi dan rasul, siapa sahabat dan pengikut mereka yang semuanya sama; beramal baik karena Allaah.
Contohnya kita hendak mengambil sifat-sifat nabi yang diungkapkan dalam Al-Quran, misalnya pada surah Al-Ahzab ayat 21 berikut.

  لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullaah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allaah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allaah.

Coba diambil sifat yang dapat ditumbuhkan pada diri anak usia 4-5 tahun misalnya “meneladani sifat Rasulullaah Saw”, “mengharap rahmat Allaah” (berdo’a), dan “banyak menyebut Allaah” (berdzikir).
Berikutnya kita ambil analisis pada surah Al-Hijr ayat 89 berikut.

وَقُلْ إِنِّي أَنَا النَّذِيرُ الْمُبِينُ
 
“Dan katakanlah, ‘sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dengan bukti-bukti yang nyata.”

Sifat seorang yang mampu “menjelaskan peringatan dengan bukti nyata” ini tanda cerdas (fathonah) pada Rasulullaah Saw yang di-tarbiyyah atau dididik oleh Allaah Subhaanahu wa ta’aala. Sehingga pelajaran baik (hikmah) yang bisa kita ambil dari ayat ini untuk perumusan tujuan pendidikan Islam pada anak usia 4-5 tahun adalah sifat umum, “cerdas” atau fathonah dimana suatu saat ketika anak sudah dididik di PAUD Islam dapat menjelaskan karya yang ia buat berupa gambar, masakan, hasil tanam, sampai mampu menjelaskan apa manfaat berbuat baik kepada orangtua, guru dan teman, misalnya. Insya Allaah, semoga Allaah memberi kepahaman kepada kita semua untuk melaksanakan pekerjaan mulia ini.

Selanjutnya, sebaik-baik keterangan dari Al-Quran adalah hadis Rasulullaah Saw, misalnya kita coba analisis kisah dalam hadis berikut. 

Rasulullaah Saw berkata kepada Asyajj 'Abdul Qais:
إن فيك لخلقين يحبهما الله : الحلم والأناة
"Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Allaah sukai; sifat santun dan tidak tergesa-gesa"

Lalu Asyajj “Abdul Qais berkata:
يا رسول الله , أهما خلقان تخلقت  ما , أم جبلني الله عليهما
"Wahai Rasulullah, Apakah kedua akhlaq tersebut merupakan hasil usahaku, atau Allaah-kah yang telah menetapkan keduanya padaku?"
Beliau menjawab:
بل جبلك الله عليهما
"Allaahlah yang telah mengaruniakan keduanya padamu".
Kemudian ia berkata:
الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما ورسوله

"Segala puji bagi Allah yang telah memberiku dua akhlaq yang dicintai oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya". (HR. Muslim:17 dan 18, Abu Dawud:5225 dan Ahmad Jilid 4:206).

Alhamdulillaah, coba disoroti sifat “santun” dan “tidak tergesa-gesa” sahabat Asyajj ‘Abdul Qais yang dapat dijadikan sebuah tanda akhlak mulia pada anak usia 4-5 tahun.
 
-----

Terima Kasih, Selamat Mendidik Generasi
Ridza Gandara